>> VIDEO SEKS <<
  • Posted by : Nita Laurensia Jumat, 17 Mei 2019


    Sebagaimana  telah   aku  kemukakan pada  tulisan   aku yang terdahulu, yang berjudul "Tergila-gila Pada Mertua",
    selain  berbagai  usaha yang terkait  dengan  ibu  mertuaaku ,  sebenarnya sebelum kelahiran anak  aku  yang kedua,
    aku   telah  pernah bersetubuh dengan orang  lain,  yakni dengan isteri teman  aku
    Kejadiannya   bermula  dari  perjumpaan   aku    dengan seorang teman SMP  aku  di sebuah toko elektronik,  ketika
    aku   sedang  membeli VCD Player. Pertemuan di  toko  itu kemudian  dilanjutkan dengan makan malam  bersama.  Joko, teman   aku  itu, bekerja sebagai di salah satu perusahaan
    minyak.  Karena  ia  bekerja  di  bagian  produksi,  maka waktunya lebih banyak dihabiskan di anjungan minyak lepas
    pantai.  Dua minggu di anjungan, dan satu minggu kemudian ia  bekerja di darat. Begitulah pola jadwal kerjanya.  Ia
    telah  5 tahun menikah tetapi belum juga dikaruniai anak.
    Nama  isterinya  adalah Nina, bekerja  sebagai  dosen  di salah  satu perguruan tinggi swasta. Pembicaraan di rumah
    makan   tersebut  sedemikian  mengasyikkan.  Kami  banyak mengenang  berbagai  kejadian lucu  semasa  kami  di  SMP dahulu.  Bagaimana kami berusaha mengintip paha guru-guru wanita, cerita tentang Bibi Kantin, dan sebagainya. Tidak kami  sadari, rupanya rumah makan itu akan segera  tutup. Kemudian Joko mengajak  aku  ke rumahnya.

    Rumah  Joko  sudah sepi ketika kami  sampai  di  sana. Menjawab pertanyaan Joko, pembantu wanita yang membukakan pintu mengatakan bahwa isteri Joko telah masuk kamar dari
    jam  sembilan, mungkin sudah tidur katanya. Sambil  duduk di  ruang tamu menunggu Joko yang masuk ke kamarnya,  aku mengamati  rumah  Joko yang cukup  asri  ini.  Dari  foto mereka  yang  terpajang,  aku  dapat melihat  dan  menilai
    bahwa   isterinya  cukup  menarik  dan  seksi.   Ternyata penilaian    aku   tersebut  tidak  salah.

    Dengan   hanya mengenakan  daster  tanpa lengan dan  sedikit  terkantuk- kantuk ia menjulurkan tangannya "Nina" katanya. "Bambang" jawabku  singkat.

    Kemudian Nina mengatakan ia mohon  maaf karena  mengantuk sekali dan harus tidur cepat karena  ia
    mendapat   jadwal   mengajar   pagi   keesokan   harinya. Tinggallah     aku    berdua   dengan   Joko   melanjutkan
    perbincangan  kami.  Sambil berbincang-bincang,  kemudian Joko  mencoba  VCD yang baru dibelinya. VCD  itu  sendiri isinya  film  yang cukup terkenal (judulnya  kalau  tidak salah "Indecent Proposal". Kurang lebih film itu berkisah
    tentang   tawaran  dari  seorang  pria  untuk  memberikan sejumlah  besar uang apabila ia diperbolehkan  mengencani
    isteri pria yang satunya tersebut.

    Sambil menonton,  Joko bertanya  "Kalau  kamu  bagaimana  Bang?" tanyanya.  Aku menjawab "enggak tahu deh .. bingung". Kemudian aku balik bertanya  "Kalau kamu bagaimana Jok?". Joko  mengemukakan
    bahwa kalau ia menghadapi situasi yang demikian, maka  ia akan  menerima  tawaran itu.

    Bahkan  ia  kemudian  secara terbuka  mengungkapkan kepadaku bahwa terkadang  ia  suka
    membayangkan isterinya bersetubuh dengan orang  lain.

    Ia merasa  janggal dengan keadaannya yang satu ini. Kemudian kami  memperbincangkan  berbagai hal  lainnya.  Menjelang tengah  malam,  akhirnya  aku  pamit, walaupun  sebenarnya
    masih banyak yang ingin kami perbincangkan. Dengan  kesibukan  masing-masing, selama  hampir  tiga
    minggu kami tidak berkomunikasi. Sampai akhirnya di  satu hari  Kamis,  ia menelepon  aku  di kantor  menjelang  jam
    pulang kantor. Joko mengajak  aku  untuk bertemu di  salah satu   Cafe  di  bilangan  Kemang.  Karena  tidak  acara,
    akhirnya   aku  menyanggupi ajakan tersebut. Rupanya  Joko ingin  membicarakan suatu hal yang agak pribadi, sehingga ia  mengajak   aku   bertemu  di  cafe  tersebut.  Setelah pembicaraan  basa-basi, akhirnya ia  mengutarakan  maksud utama mengapa ia mengajak  aku  bertemu.

    "Begini    Mbang"   kata   Joko   sebagai   pembukaan. "Sebetulnya  aku  agak sungkan mengemukakan hal yang  akan
    aku    utarakan  ini,  karena  sifatnya  begitu  pribadi" lanjutnya. "Mudah-mudahan kamu tidak terkejut  dan  tidak
    berpikir yang bukan-bukan terhadap  aku , setelah semuanya ini   aku   ungkapkan padamu" sambung Joko lagi. "Ada  apa sih   Jok"   tanyaku   penasaran.

    "Pernah   tidak   kamu membayangkan  isterimu  bermesraandengan  orang   lain" tanyanya. "Pernah" jawabku singkat dan sejujurnya  memang demikian.   "Aku  juga"  katanya.  "Bahkan,  aku   sangat terangsang kalau membayangkan isteriku bersetubuh  dengan laki-laki  lain"  lanjutnya.  "Sebenarnya,  secara  tidak langsung aku pernah mengemukakan hal tersebut ketika kita nonton  film  di rumahku dulu" lanjutnya lagi.  "Bayangan itu,   hampir   tiap  malam  singgah  di  kepalaku.   Dan sepertinya  aku  tidak  tahan lagi untuk  mewujudkannya." kata Joko sambil meneguk minumannya.

    "Karena itulah,  aku mengajakmu  bertemu. Terus terang Mbang,  aku  mau  minta
    tolong  padamu.  Maukah kamu menyetubuhi isteriku  ?  Aku ingin  melihat  kamu menyetubuhi isteriku"

    katanya  malu- malu.  Walaupun  sebenarnya aku juga  sudah  menduga-duga kemungkinan  akan  hal  itu, tetapi  aku  tetap  tertegun mendengar  ungkapan Joko tersebut. "Maaf ya Mbang,  kalau permintaanku itu kurang enak buat kamu" kata Joko melihat aku  diam  saja.  "Terus terang Jok, aku kaget  dan  agak bingung.  Walaupun  masih  ada  beberapa  pertanyaan   di benakku,  tapi aku dapat memahami keinginanmu  itu.  Yang benar-benar  membuatku bingung ... kenapa aku  yang  kamu pilih untuk menyetubuhi isterimu.?"  tanyaku.

    "Ada  beberapa alasan" jawab Joko. "Pertama, aku sudah cukup  mengenal kamu, yang artinya kamu aku  nilai  tidak
    akan  sembarangan  membocorkan rahasia ini  kepada  orang lain.  Kedua, walaupun kita kenal sudah cukup lama,  tapi kita kan tidak sering berhubungan. Aku pikir keadaan  itu dapat  mengurangi resiko timbulnya berbagai masalah  yang lebih  besar kemungkinannya timbul kalau yang menyetubuhi isteriku  adalah  orang yang bergaul  sehari-hari  dengan kami"  lanjut  Joko. "Maksudmu bagaimana  Jok,  aku  agak kurang   jelas?"   tanyaku.  "Begini,  seumpamanya   yang menyetubuhi isteriku itu tetanggaku atau teman  kantorku, kan  kejadian itu dapat menimbulkan situasi hubungan yang baru  di antara kami.

    Misalnya, jadi salah tingkah  dalam berhubungan. Dan jika hal itu terjadi, akan  lebih  besar pengaruhnya dibandingkan jika dengan kamu. Karena, hamper tiap  hari kan aku ketemu mereka." kata Joko menjelaskan. "Kalau begitu, ada kemungkinan dong hubungan kita menjadi renggang?"  tanyaku lebih jauh. "Itu kan cuma  permisalan
    saja"    kata   Joko.   "Tapi   kan   aku   harus   tetap memperhitungkannya"   kata   Joko   lagi.   "Pertimbangan
    lainnya" tanyaku lagi.

    "Terus  terang  Mbang,  biar bagaimana  juga  kan  aku harus  pilih-pilih. Aku tidak mau dong orang  sembarangan
    yang  menyetubuhi isteriku. Tampang dan  kondisi  sosial- ekonomi,  setidaknya selevel denganku" kata Joko.  "Kalau
    orang  sembarangan, isteriku juga belum tentu mau" lanjut Joko lagi.

    "Memangnya hal ini sudah kamu bicarakan dengan isterimu?" tanyaku sambil meneguk Coca Cola yang  ada  di
    hadapanku. Kemudian Joko mengatakan "Sudah tahunan  Mbang aku  mengungkapkan  keinginanku ini  ke  Nina.  Tapi  dia selalu menolaknya. Ide gila katanya. Baru beberapa  bulan yang  lalu  sikapnya  agak melunak, karena  kayaknya  dia mulai  takut aku ceraikan karena tidak punya anak.  Tapi, sampai  saat  ini  keinginanku itu belum terpenuhi.  Kami belum  menemukan  orang  yang  benar-benar  cocok  dengan keinginan  kami. Kadang aku yang tidak cocok, kadang  dia yang  tidak menyenangi orang yang aku usulkan.  Ada  juga yang  alternatif  orang yang kami berdua  kurang  cocok".

    "Memangnya  kalau aku, isterimu sudah setuju?"  potongku.
    Joko menjawab "Aku sudah pernah membicarakan kamu sebagai
    alternatif  kepada Nina, dan responsnya  menurutku  lebih
    baik  dibandingkan  dengan calon-calon sebelumnya".  "Apa
    komentar Nina tentangku" tanyaku lagi. "Nina bilang  kamu
    'boleh  juga', dan seperti penilaianku, Nina juga menilai
    kamu cukup dikenal olehku, namun kita tidak terlalu dekat
    dan  tidak terlalu sering berhubungan dengan kami"  jawab
    Joko.

    Setelah menanyakan beberapa hal lainnya, kemudian
    aku  mengatakan  kepada Joko bahwa aku masih  membutuhkan
    waktu  untuk  berpikir. Alasan utama  yang  aku  utarakan
    adalah  bahwa  aku belum pernah melakukan  hal  tersebut.
    Kemudian setelah kami berbincang-bincang tentang berbagai
    hal lainnya, kami akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
    Pada  malam  saat aku berbicara dengan  Joko  di cafe‚
    tersebut,  aku sebenarnya sudah ingin memberikan  jawaban
    bersedia. Selain memang mungkin benar bahwa pria memiliki
    kecenderungan untuk tidak puas dengan satu  wanita  saja,
    juga didukung oleh situasi dimana satu bulan terakhir ini
    isteriku  sudah tidak mau diajak bersetubuh  karena  usia
    kandungannya   yang   sudah   tua.

    Faktor   kebat-kebit
    sehubungan   dengan  hasratku  terhadap  mertuaku,   juga
    semakin  menggelitik kebutuhan seksku.  Satu-satunya  hal
    yang   menunda  persetujuanku  adalah  kekhawatiran  akan
    resiko  dari  memenuhi  permintaan  itu.  Pertama,  terus
    terang aku takut affair tersebut akan diketahui orang dan
    akhirnya  sampai  ke  telinga  keluargaku  atau  keluarga
    isteriku.

    Kedua, aku khawatir kalau Joko meminta  imbalan
    sebaliknya. Artinya, ia juga ingin menyetubuhi  isteriku.
    Aku  khawatir kalau ia meminta hal ini, aku  tidak  dapat
    memenuhinya. Isteriku kemungkinan besar akan menolak  ide
    itu,  aku sendiripun masih bertanya-tanya apakah aku  mau
    membiarkan  isteriku disetubuhi orang lain. Walaupun  aku
    terkadang  memfantasikannya, kan tetap  ada  beda  antara
    fantasi dengan realita.

    Setelah   aku  timbang-timbang  kurang  lebih   selama
    seminggu,  dan  setelah memperoleh konfirmasi  dari  Joko
    bahwa   ia   tidak   bermaksud  untuk   meminta   imbalan
    menyetubuhi  isteriku,  akhirnya  aku  memutuskan   untuk
    memenuhi  tawaran  dari Joko tersebut.

    Kemudian,  melalui
    telepon aku memberitahu Joko, dan langsung saat itu  juga
    kami  membuat janji untuk bertemu di rumah Joko pada hari
    Jumat malam.

    Dengan   alasan  ingin  bertemu  dengan  teman   lama,
    setelah  mandi dan sempat bermasturbasi di  kamar  mandi,
    aku  pamit  pada  isteriku dan berangkat ke  rumah  Joko.

    Makan  malam  di rumah Joko berlangsung agak kaku.  HanyaJoko    saja   yang   banyak   berbicara   dan   berusahamenghangatkan suasana. Aku hanya mengiyakan atau menjawabsingkat  pertanyaan-pertanyaan Joko. Sementara itu,  Nina lebih  banyak menundukkan kepala dan terlihat agak jengah ketika  bertemu  pandang denganku. Yang ada  di  kepalaku saat  itu, adalah bayangan bahwa sebentar lagi  aku  akan memesrai  wanita  ini. Beberapa kali aku  sempat  mencuri pandang  ke  arah Nina dengan agak menjelajahi  tubuhnya.

    Khususnya, ketika ia berdiri dan berjalan mengambil  buah
    untuk penutup makan malam itu.
    Sehabis  makan,  ketika Nina membereskan  meja  makan,
    Joko  dan   aku   duduk-duduk di ruang keluarga.  Beberapa
    saat kemudian Nina masuk ke ruang keluarga itu, duduk  di
    salah  satu  sofa tunggal  di ruang itu. Ia duduk  dengan
    kedua  tangan  menyatu  dan diselipkan  di  antara  kedua
    kakinya.   Terkesan  sangat  gugup,  canggung  dan   agak
    ketakutan. Suasana terasa sangat kaku, walaupun  beberapa
    kali  Joko berusaha melucu. Tatapan kami lebih sering  ke
    arah televisi, tapi aku yakin kalau pikiran kami bukan ke
    acara  di televisi tersebut.

    Suatu saat Joko berdiri  dan
    kemudian menarik tangan Nina untuk bangun dari sofa  yang
    didudukinya.  "Ada apa Mas?" tanya Nina keheranan.  Tanpa
    menjawab,  Joko  kemudian menuntun Nina  ke  arahku  yang
    duduk   di  sofa  panjang,  lalu  mendudukkan   Nina   di
    sampingku.  "Apa-apaan  sih" kata Nina  sambil  terduduk.
    Situasinya   semakin  menjadi  tidak  enak  dan   semakin
    canggung.  "Kayaknya kamu terlalu maksa deh  Jok"  kataku
    kepada   Joko.  Nina  diam  saja  dengan  wajah  memerah,
    campuran  rasa  malu dan canggung.

    "Sorry  deh.  Mungkin
    lebih baik kalian berdua saja dulu untuk lebih akrab. Aku
    ke  teras  depan  dulu ya .. " kata Joko sambil  berjalan
    meninggalkan kami.
    "Kita  batalin saja Nin, kalau kamu memang tidak  mau"
    kataku  kepada  Nina,  sambil  mengarahkan  pandangan  ke
    televisi  lagi. "Nggak apa-apa kok ...  aku  memang  sudah
    menyanggupi hal ini pada Mas Joko. Cuma aku bingung  saja
    aku  harus bagaimana", jawab Nina. Kemudian aku memandang
    wajah  Nina, terlihat pipinya memerah kembali.

    "Aku  juga
    bingung,    belum   pengalaman   sih"   jawabku    sambil
    memberanikan diri memegang tangan Nina. Ia diam saja, dan
    membiarkan tangannya kuelus-elus. Detak  jantungku maupun
    jantung  Nina, semakin mengeras sejalan dengan  kegugupan
    kami masing-masing. Kemudian aku menyandarkan lenganku ke
    bahunya, terasa hangat namun tetap gugup.

    Kemudian kuusap-
    usap  rambutnya, turun ke leher, ke rambut  lagi.  Bolak-
    balik  begitu. Suasana terasa lebih rileks, dan  kemudian
    Nina  menyandarkan  kepalanya ke punggung  tangan  kiriku
    yang  ada  di  bahu  kirinya.  Kemudian  tangan  kanannya
    menarik  tangan kananku dan meletakkan di telapak  tangan
    kirinya,  sambil  tangan kanannya mengelus-elus  punggung
    tangan  kananku. Saat itu, bagi kami, terasa lebih  mudah
    melakukan gerakan-gerakan dibandingkan dengan berbicara.

    Setelah  beberapa  saat, kemudian  aku  menarik  kedua
    tanganku, dan duduk menghadap Nina sambil memegang  kedua
    pipinya dengan tanganku.

    Sesaat kami berpandangan, tetapi
    kemudian  Nina  menutup  kedua matanya.  Secara  naluriah
    kemudian  kucium bibir Nina. Untuk sesaat,  terasa  bibir
    Nina  agak menutup rapat, tapi kemudian lama-lama melemah
    dan membuka. Kukulum bibirnya dengan lembut. Lalu kujepit
    bibir bawahnya dengan kedua bibirku, sambil kubelai bibir
    bawahnya  itu  dengan  lidahku.  Kemudian  kukulum   lagi
    lidahnya,  terasa mulai ada respons dari Nina.  Ia  mulai
    aktif  membalas  ciuman  dan kulumanku.  Secara  refleks,
    tanganku  mulai membelai-belai payudaranya, dan  sesekali
    meremas  dengan  lembut.

    Kemudian  Nina  melenguh,   dan
    melepaskan  bibirnya dari bibirku dengan napas  terengah-
    engah.  Matanya terbuka dan kemudian bibirnya  tersenyum,
    akupun  tersenyum sambil memandangnya. "Aku belum  pernah
    dicium  dengan  cara tadi dan belum pernah ciuman  selama
    itu"  kata  Nina  kepadaku. Aku diam  saja  sambil  terus
    membelai  payudara  Nina.  Dengan  gerakan  memutar,  aku
    mengelus daerah puting payudaranya.  Secara perlahan, aku
    dapat   merasakan  bahwa  putingnya  makin   lama   makin
    menonjol.  Tanpa  berkata-kata, kupeluk  erat  Nina,  dan
    kemudian kucium lagi.

    "Nah  begitu  dong  ... " kata Joko  yang  tanpa  kami
    sadari sudah berada di dekat kami. Nina dan aku sama-sama
    terkejut  dan agak terlonjak mendengar suara Joko.  Tubuh
    kami  pun menjadi agak merenggang. "Ngaget-ngagetin  saja
    kamu  Jok"  kataku  sambil merasa agak malu  dan  sedikit
    terganggu,  karena situasi tadi sempat membuaiku.  "Sorry
    deh  .. kita ke kamar saja yuk" kata Joko. Kemudian  kami
    bertiga masuk ke salah satu kamar. Perkiraanku, kamar ini
    bukanlah kamar mereka, karena terlihat agak kosong. Boleh
    jadi kamar ini adalah kamar untuk tamu.

    Di  kamar  Joko langsung duduk di kursi meja rias  dan
    berkata, "Terusin deh yang tadi ... kaya'nya kalian sudah
    mulai hot". Namun kecanggungan kembali merajai situasi di
    ruangan.  Boleh  jadi, keberadaan Joko  menyebabkan  kami
    menjadi  canggung. Nina hanya duduk diam  di  salah  satu
    sisi  tempat  tidur.  Di  sisi  lainnya  aku  juga  duduk
    terdiam. Namun kemudian aku berkata "Rasanya canggung Jok
    ada   kamu  disini".  Menyadari  situasi,  kemudian  Joko
    mengatakan  bahwa  ia akan keluar dulu  dari  kamar  itu,
    sementara  kami  mencoba untuk memadu kemesraan.

    Setelah
    Joko  keluar  kamar,  baru terasa bahwa  situasi  menjadi
    lebih  rileks  dan menyenangkan. Aku kemudian  tersenyum,
    sambil  berjalan  ke arah Nina.

    Nina membalas  senyumanku
    itu  sambil  merentangkan tangannya dan memelukku  ketika
    aku   sampai  di  hadapannya.  Sambil  duduk  kami  terus
    berpelukan  dan berciuman, sambil meraba-raba  satu  sama
    lainnya.  Secara tidak sadar posisi kami  sudah  setengah
    berbaring.  Kakiku  dan  kaki  Nina  masih  terjuntai  ke
    lantai,  tapi  aku  sudah  dalam  posisi  menindih  Nina.
    Kuciumi  payudara  Nina,  ia mulai  menggeliat-menggeliat
    sambil  terkadang  menarik nafas  panjang.  Nafasnya  pun
    terdengar  semakin  berat.  Kubuka  kancing-kancing  baju
    Nina,  dan terlihatlah BH nya yang berwarna coklat  muda.
    Kusingkapkan   BH  sebelah  kanan  agak   ke   atas   dan
    tersembullah  buah  dada  Nina  yang  cukup  besar   itu.

    Putingnya   tidak  terlalu  besar  tetapi   sudah   cukup
    menonjol.  Tampaknya  ia sudah mulai  terangsang.  Segera
    kuciumi payudaranya dan kumainkan putingnya dengan  bibir
    dan  lidahku,  kadang-kadang kusedot putting payudaranya.
    "Oooohhhhh .... " lenguh Nina, satu saat ketika putingnya
    kusedot.

    Setelah  cukup  lama bermain-main dengan  payudaranya,
    kemudian  ciumanku  mulai turun ke  arah  perutnya.  Nina
    menggeliat  kegelian.  "Geli  Mas"  katanya.  Seakan-akan
    sudah janjian, kami kemudian merenggangkan tubuh kami dan
    sama-sama  bangkit duduk, sambil melepas pakaian  masing-
    masing,  sehingga tinggal celana dalam kami masing-masing
    saja   yang   masih  melekat  di  tubuh  kami.  Kemudian,
    kubaringkan  Nina,  dan  kuciumi  bagian  dalam  pahanya,
    sambil  menarik  celana dalamnya ke bawah,  sampai  akhir
    terlepas.  Bulu-bulu di kemaluan Nina cukup  lebat,  tapi
    garis  kemaluannya masih cukup jelas terlihat.  Kemudian,
    kubuka  celana  dalamku sendiri, sehingga  akhirnya  kami
    sama-sama  telanjang bulat.

    Kulihat  Nina  agak  tertegun
    melihat kemaluanku. "Kenapa Nin?" tanyaku "Tidak apa-apa"
    jawabnya.  Kemudian  kutindih kembali  Nina  dan  kuciumi
    leher  dan kupingnya. Kembali terdengar lenguhan-lenguhan
    Nina.  Agak  berbeda dengan isteriku  yang  tidak  banyak
    mengeluarkan  bunyi  kalau kami sedang  bermesraan,  Nina
    cukup  banyak  mengeluarkan  bunyi,  entah  itu  lenguhan
    "Oooohhhhh"  atau "eeggghhh" atau "heegg",  dan  beberapa
    bunyi  lain  yang tidak dapat aku ingat.

    Kemaluanku  yang
    mulai  membesar dan mengeras menempel di pahanya. Mungkin
    tanpa disadari, tangan Nina bergerak-gerak seakan mencari
    kemaluanku.  Kuangkat sedikit pinggulku  sehingga  tangan
    Nina  dapat  menyelinap  ke  sela-sela  badan  kami   dan
    akhirnya  menyentuh kemaluanku. Dengan lembut  kemaluanku
    digenggamnya  dan  digeser-geserkan  ke  selangkangannya.

    Nikmat  rasanya, walaupun hanya bergesekan saja.  Setelah
    cukup   tegang,   Nina   melepaskan   genggamannya   pada
    kemaluanku   dan   kedua  tanganya  mulai   mengusap-usap
    punggungku sambil terkadang memeluk erat tubuhku yang ada
    di atas tubuhnya.
    Tiba-tiba ada seberkas cahaya tambahan terlihat.  Kami
    sama-sama menoleh ke arah pintu dan melihat Joko  berdiri
    di  ambang pintu sedang memandang kami. Joko tertegun dan
    kemudian  menganggukkan kepalanya.  Aku  tidak  tahu  apa
    maksud  dari  anggukan kepalanya. Hanya aku sempat  kesal
    dan  berpikir "waduh ini orang, selalu tidak sabaran  dan
    menggangu  saja".

    Berusaha mengabaikan  keberadan  Joko,
    kugesekkan  terus kemaluanku di selangkangan  Nina,  yang
    rasanya  mulai  membasah. Khawatir "turun"  lagi  situasi
    yang  sudah  panas ini, kupegang kemaluanku  dan  mencoba
    mengarahkannya  ke lubang kemaluan Nina.  Dengan  sedikit
    dorongan  ekstra,  akhirnya kemaluanku berhasil  menembus
    lubang   kemaluan  Nina.  Pada  dorongan  pertama   hanya
    kepalanya  saja  yang  masuk.  Terasa  hangat  dan  empuk
    kemaluan  Nina. Ketika kumasukkan, Nina mengeluh  "aduuhh
    ...".  Kutarik  dan kemudian kumasukkan lagi  kemaluanku,
    hasilnya  lebih  dalam  dari yang pertama.

    Pada  enjotan
    kelima,   bersamaan   dengan  masuknya   seluruh   batang
    kemaluanku ke lubang kemaluan Nina, Nina kembali mengeluh
    "aduuhh  sakit  mas  ...  " katanya.  Kudiamkan  sebentar
    kemaluanku di dalam kemaluan Nina. Kemudian kadang-kadang
    kutegangkan  kemaluanku yang masih didalam kemaluan  Nina
    dengan  sedikit  mengencangkan otot-otot  selangkanganku.
    Secara   halus  kurasakan  kadang-kadang  kemaluan   Nina
    berespons,  dengan gerakan menyempit kemudian normal  dan
    menyempit lagi. Tatkala kutatap wajah Nina yang tersenyum
    kecil,  aku  baru sadar bahwa ia memang sengaja  membalas
    gerakanku menegangkan kemaluanku tersebut dengan  gerakan
    vaginanya.

    Beberapa  lama  kami  berkomunikasi   dengan
    kemaluanku, tanpa Joko dapat melihatnya.

    Tetapi  kemudian
    aku tidak tahan lagi. Segera kuenjot lagi pinggulku, kira-
    kira  pada enjotan yang ke sepuluh, aku tidak tahan  lagi
    dan  akhirnya  memuncratkan air maniku di dalam  kemaluan
    Nina.  Entah karena sensasi pengalaman baru, entah karena
    muculnya  Joko, entah karena sudah cukup lama  aku  tidak
    bersetubuh,  yang menyebabkan aku eyakulasi  lebih  cepat
    dari  biasanya. Yang jelas aku terbaring  di  atas  tubuh
    Nina  dan  mebisikkan ke telinga Nina "Terima kasih  Nin.
    Punyamu  sempit dan enak sekali". Nina diam saja. Setelah
    beberapa  lama  dalam posisi itu, kemudian  Nina  berkata
    "Sesak  nafasku mas, badanmu berat".

    Aku  tahu  diri  dan
    kemudian  menggeser  badanku  ke  samping  dan  berbaring
    tertelentang menikmati pengalaman yang baru kurasakan.
    Nina  bangkit  berdiri  dan menutupi  tubuhnya  dengan
    bajunya sambil berjalan ke luar. "Mau ke mana Nin"  tanya
    Joko  ketika  Nina lewat di hadapannya. "Ke kamar  mandi"
    jawab  Nina singkat sambil terus keluar kamar.  Menyadari
    Joko  masih berada di pintu kamar itu, aku segera bangkit
    dan mengenakan pakaianku.

    "Koq sebentar?" tanya Joko "Aku
    sudah  lama  tidak begituan Jok" jawabku  sambil  memakai
    celana  panjangku. "Aku belum sempat melihat banyak  lho"
    kata Joko. "Mau nggak main sekali lagi?" tanya Joko.  Aku
    terdiam  sesaat  dan kemudian menjawab  "Untuk  kali  ini
    kayaknya  cukup Jok" kataku. "Kalau pulangnya  kemalaman,
    nanti isteriku bisa curiga" lanjutku lagi. Kemudian  kami
    keluar   kamar  meuju  ruang  keluarga  lagi.  Di   ruang
    keluarga, aku dan Joko mendiskusikan pengalaman yang baru
    terjadi.  Joko  mengatakan bahwa  pengalaman  itu  sangat
    merangsang  dirinya.

    Aku  mengungkapkan  secara  terbuka
    bahwa  keberadaan Joko sedikit-banyak menghambat  situasi
    panas  yang sedang meningkat. Akhirnya, aku mengungkapkan
    bahwa aku mau pulang. Joko kemudian memanggil Nina,  yang
    ternyata  masih berada di kamar mandi yang ada  di  dalam
    kamar  mereka.  "Lama amat sih ... " kata Joko  menyambut
    Nina  yang keluar dari kamar. "Maaf " kata Nina  singkat.
    "Aku  pulang  ya  Nin" kataku. "Iya Mas  ..."  kata  Nina
    tersipu  malu. Sambil pulang, terbayang kembali kejadian-
    kejadian  yang baru aku alami. Dan sesampainya di  rumah,
    aku sempat bermasturbasi di kamar mandi, sebelum akhirnya
    berbaring di samping isteriku yang telah tertidur lelap.

    Pada  hari Seninnya, Nina meneleponku di kantor.  Nina
    menceritakan  bahwa Joko agak marah pada dirinya,  karena
    persetubuhan  antara  Nina dengan aku  hanya  berlangsung
    sebentar  saja. Menurut Joko, Nina kurang  melayani  akau
    dengan  baik.  Pendek  kata, Joko tidak  puas  dan  ingin
    mengulangi lagi. Aku bilang pada Nina bahwa aku  bersedia
    lagi,  jika  Joko  meminta lagi padaku.  Kemudian  secara
    bergurau Nina berkata "Kalau aku yang minta bagaimana Mas
    Bambang....?".

    "Maksudmu?" tanyaku. "Iya.... tadi kan Mas
    Bambang   bilang   bahwa  kalau  Mas   Bambang   bersedia
    bermesraan lagi denganku kalau Mas Joko meminta lagi pada
    Mas  Bambang. Nah ..., maksudku kalau aku yang  minta  ke
    Mas  Bambang  bagaimana?". "Siapa  yang  takut"  jawabku.
    Sudah hilang  rupanya  kecanggungan Nina kepadaku.  Boleh
    jadi hal tersebut disebabkan karena kami sudah pernah me-
    lakukan hubungan intim  sebagaimana layaknya suami-istri.
    "Emangnya  kamu  serius  Nin, ingin  lagi   bermesraan
    denganku"  kataku  lirih takut ada yang  dengar.  "Serius
    mas,  aku  ingin  mencoba tanpa ada  mas  Joko.

    Rasanya,
    keberadaan   dia  mengganggu  moodku.  Waktu   itu,   kan
    sebenarnya  aku sudah pengin banget, tapi  pas  Mas  Joko
    maksud,   aku  jadi  agak  terhambat  deh.  Mas   Bambang
    merasakan tidak sih waktu si 'adek' aku pijit-pijit pakai
    kemaluanku?". "Terasa koq Nin, aku baru sadar  waktu  aku
    menatapmu"  jawabku.  "Waktu itu,  sebenarnya  aku  sudah
    ingin  banget  dipuaskan. Tapi sengaja, aku bilang  bahwa
    aku  merasa  akit.  Soalnya, aku takut Mas  Joko  cemburu
    karena  aku jadinya juga menginginkan persetubuhan dengan
    Mas. Padahal kan Mas Bambang bisa merasakan sendiri bahwa
    saat  itu kan aku sudah basah banget di bawah sana"  kata
    Nina.  "Iya  Nin, waktu itu aku agak bingung. Kamu  sudah
    basah, tapi koq masih bilang sakit" kataku.

    "Pada awalnya
    memang  agak sakit sih Mas.. soalnya punyamu lebih  besar
    daripada punyanya Mas Joko.

    Tapi, habis itu rasanya  enak
    sekali.   Padat   rasanya  punyaku  dan  terasa   punyamu
    menggesek seluruh dinding kemaluanku" sambung Nina. "Nah,
    pas  mas  sudah keluar, aku kan buru-buru pergi ke  kamar
    mandi  dan  agak lama di sana. Waktu itu, di kamar  mandi
    aku  menuntaskan apa yang belum mas tuntaskan." kata Nina
    lagi.  "Sorry deh Nin, abis waktu itu rasanya enak banget
    dan  aku sudah lama tidak melakukan hubungan intim dengan
    isteriku" kataku.
    "Mengenai  permintaanku  tadi  bagaimana  Mas?"  tanya
    Nina.  "Bagaimana  caranya dong,  kita  bisa  berhubungan
    tanpa   sepengetahuan   Joko?"  tanyaku.

    "Begini   Mas,
    kebetulan   aku  minggu  depan  ditugaskan   ke   Bandung
    sendirian.  Mas bisa menemui aku di Bandung  kalau  mau."
    kata  Nina. Akhirnya kami membuat janji untuk bertemu  di
    Bandung.

    Setibanya   di  Bandung,   nanti   Nina   akan
    menghubungiku  via  handphone  untuk  memberitahukan   ia
    menginap di mana dan di kamar berapa.
    Minggu  depannya, setelah menerima telepon dari  Nina,
    jam  9  malam kutekan bel pintu kamarnya di hotel. Dengan
    hanya  mengenakan daster dan rambut terikat ke atas  Nina
    membuka  pintu kamarnya. Bagaikan sepasang  kekasih  yang
    sudah  lama  tidak bertemu, kami langsung berpelukan  dan
    berciuman  segera  setelah pintu kamar  ditutup.  Kutekan
    tubuh  Nina  ke dinding, dan kugerayangi tubuhnya  dengan
    tetap  tidak melepaskan ciuman kami. Karena tidak  tahan,
    segera   kubopong  Nina  ke  tempat  tidur  dan  kemudian
    kutindih  dia dan terus kumesrai. "Mas ... mas  ...  stop
    dulu dong ... " pinta Nina tersengal-sengal. "Kenapa  Nin
    ?"  tanyaku.  "Mas ini ahh... baru datang langsung  ganas
    saja.  Minum  dulu kek atau lepas sepatu dulu  kek"  kata
    Nina sambil bangkit lalu bersimpuh dihadapanku yang duduk
    di  tempat  tidur.  Nina kemudian dengan  lembut  membuka
    sepatu  dan kaus kakiku. Kemudian ia mengambilkan  sandal
    kamar  yang  disediakan oleh hotel dan memasangkannya  ke
    kakiku. Aku tersentuh dengan perlakuan Nina tersebut. Aku
    belum  pernah  diperlakukan demikian oleh isteriku.  "Aku
    ambilkan minum dulu ya" kata Nina seraya berjalan ke arah
    kulkas.  Kemudian aku pindah duduk di kursi yang  ada  di
    kamar  itu.  Nina  meletakkan jus jeruk  di  meja  sambil
    mencubit  tanganku  dengan genit. Kurengkuh  tubuh  Nina,
    tapi  dia mengelak dan duduk di depan meja rias.  Kuteguk
    minuman yang disediakan Nina, sambil memandangi Nina yang
    sedang   menyisir   rambutnya  yang   berantakan   karena
    serbuanku tadi.
    Setelah  membuka keran bathtub, kemudian Nina mengikat
    kembali  rambutnya di depan kaca di kamar mandi tersebut.
    Kupeluk   tubuhnya   dari  belakang.  Kuraba-raba   kedua
    payudaranya  dari  belakang,  terkadang  kuremas  lembut.
    Sementara tangan kiriku tetap di dadanya,  tangan kananku
    turun  merambat  hingga  di selangkangannya,  kuusap-usap
    daerah   kemaluannya,  diselingi  dengan  tekanan-tekanan
    lembut  berputar.  Nina  mulai  mendesah-desah,  tubuhnya
    mulai  menggeliat-geliat. Mendapat respons demikian,  aku
    menjadi  semakin semangat. Kemudian dengan  ganas  kucium
    tengkuknya,   kadang-kadang   menggesesr    ke    sekitar
    kupingnya.  Desahan  dan geliatan Nina  semakin  menjadi-
    jadi.  Aku  makin  bertambah  semangat  lagi,  dan  tanpa
    kusadari  remasan  tanganku baik pada payudaranya  maupun
    selangkangannya  semakin menggebu-gebu. Aku  tidak  tahan
    lagi  dan  kukatakan pada Nina "Nin ...  aku  masukin  ya
    sebelum kita mandi". Nina mengangguk perlahan.

    Dengan  cepat  kulepaskan  baju  dan  celanaku   serta
    celana dalamku. Habis itu, kusingkap daster Nina ke atas,
    dan  kutarik  celana dalamnya ke bawah. Lalu  kutempelkan
    kemaluanku  yang dari tempat tidur tadi sudah  tegang  ku
    belahan  pantatnya, sehingga menyentuh bbir  kemaluannya.
    Dengan    gerakan   pelan   kugesekkan   kemaluanku    ke
    selangkangan Nina. Terasa hangat dan lembut. Pada  posisi
    ini,   walaupun  belum  masuk  ke  vaginanya,  aku  sudah
    merasakan  jepitan pada kemaluanku. Mungkin  itu  jepitan
    pahanya,   tetapi   mungkin  juga  jepitan   dari   bibir
    kemaluannya.

    Sementara itu, kedua  payudara  Nina  terus
    kuremas-remas. Kulirik ke kaca di depan kami, kepala Nina
    hanya  tertunduk saja, aku tidak dapat melihat  wajahnya.
    Sesekali  kulihat kepalanya menggeleng  ke  kiri  dan  ke
    kanan.  Sesekali  terdengar  rintihannya  "Masssssssssss,
    shhhhhhhhh, shhhhhhh aduhhhhhh, ahhhhhhhhh ...".  Setelah
    kurasakan kemaluan Nina sudah mulai cukup basah, kupegang
    kemaluanku dan kuarahkan ke vagina Nina. Secara  perlahan
    aku  dorong kemaluan  aku  memasuki kemaluan Nina. "Aaawww
    .asshhh" jerit Nina perlahan ketika kepala kemaluan   aku
    mulai  masuk.  Kutarik sedikit dan kemudian kutekan  lagi
    sehingga  hampir  seluruh kemaluanku  masuk  ke  kemaluan
    Nina.  Setelah  kudiamkan sebentar,  kemudian  aku  mulai
    menggerakkan  kemaluanku maju mundur  ke  kemaluan  Nina.

    Desahan dan erangan Nina semakin sering terdengar. Ketika
    kepala Nina mendongak ke belakang ke arahku, kulirik kaca
    di  depan  kami, terlihat wajah Nina memerah dengan  mata
    terpejam.   Suatu  pemandangan  yang  sangat  merangsang.
    Kuteruskan  gerakan-gerakanku dan karena  nikmatnya,  aku
    tidak  tahan  lagi  dan akhirnya dengan jeritan  tertahan
    kumuntahkan  air  maniku  di dalam  kemaluan  Nina.  Nina
    menggeliat-geliat   resah   karena   setelah   eyakulasi,
    gerakanku menjadi terhenti. "Mass .. aku belum  nih  ....
    rasanya menggantung ..... " kata Nina seakan-akan  protes
    dengan apa yang baru saja terjadi.

    "Maaf deh Nin .... enak banget sih" kataku. "Sini  aku
    bantuin supaya kamu tuntas" sambungku lagi sambil menarik
    tubuh Nina ke arah bathtub. Kemudian kami berdua masuk ke
    dalam  bathtub  dalam posisi aku duduk di belakang  Nina.
    Tangan  kiriku  mulai kembali meraba-raba payudara  Nina,
    sedangkan  tangan  kananku  berputar-putar  menggerayangi
    kemaluannya di dalam air. "Shhh oohhhh ..ahhh !!" kembali
    terdengar bunyi-bunyian dari mulut Nina. Secara perlahan,
    tubuh   kami  mulai  setengah  terbaring,  dengan  posisi
    tubuhku  bersandar  pada ujung bathtub,  sedangkan  tubuh
    Nina  bersandar  di tubuhku. Mulutku juga aktif  menciumi
    leher  dan  telinga Nina. Setelah beberapa lama  kemudian
    kurasakan  tubuh Nina mulai menegang dan  tanganku  mulai
    terjepit   agak   keras  oleh  kedua   pangkal   pahanya.
    Kuteruskan  gerakan-gerakanku, sampai  akhirnya  kudengar
    jeritan  tertahan "massss, acccchhhhhhh ...... " disertai
    dengan jepitan yang sangat keras pada tangan kananku. Aku

    menduga  bahwa Nina sedang mencapai orgasme, dan ternyata
    memang  benar.  Secara  perlahan-lahan  tubuh  Nina  yang
    tadinya  sangat  tegang  mulai mengendur  dan  rileks  di
    pelukanku. "Ma kasih ya mas " kata Nina singkat.  Sejenak
    kami  terdiam,  dan setelah beberapa lama  kemudian  kami
    mulai mandi, dengan saling menggosok tubuh kami satu sama
    lainnya.

    Setelah mandi,  sambil berbaring berpelukan di  tempat
    tidur,   kami  membicarakan  beberapa  hal.  Nina  banyak
    bercerita   tentang  hubungannya  dengan  Joko.   Setelah
    beberapa lama kemudian kembali kami memadu nafsu kami  di
    ranjang  hotel  yang  sempit itu,  sampai  akhirnya  kami
    tertidur dalam keadaan telanjang bulat. Keesokan paginya,
    sebelum  aku  kembali ke Jakarta, kami sempat berhubungan
    sekali  lagi. Nina mengemukakan bahwa ada satu pengalaman
    baru  yang  ia  alami selama dua hari  kami  berhubungan,
    yakni   untuk  pertama  kalinya  ia  merasakan  nikmatnya
    kemaluannya diciumi. Menurut Nina, Joko tidak pernah  mau

    menciumi  kemaluannya,  tapi sering  meminta  Nina  untuk
    menciumi kemaluan Joko.

    Seminggu  setelah kejadian di Bandung  tersebut,  Joko
    menelepon  dan  meminta kesediaanku  untuk  mencoba  lagi
    berhubungan  dengan Nina. Seakan belum  terjadi  apa-apa,
    aku  mensyaratkan  kepada  Joko  agar  aku  mencoba  dulu
    berhubungan dengan Nina tanpa dia di sekitar kami. Dengan
    agak berat hati, Joko menyetujui syaratku itu. Belum tahu
    saja  dia  ...  bahwa aku dengan Nina sudah cukup  akrab,
    bahkan  sejak pulang dari Bandung, hampir tiap hari  kami
    berhubungan melalui telepon.

    Pada  hari yang telah kami sepakati, Joko pamit  ingin
    jalan-jalan  setelah kami selesai makan  malam  di  rumah
    Joko.  Sepeninggal  Joko,  Nina menghambur  ke  pelukanku
    seraya  mengungkapkan  bahwa ia  kangen  sekali,  sampai-
    sampai hampir tiap hari ia bermasturbasi sambil mengingat-
    ingat  kejadian di Bandung. Kugendong tubuh Nina ke kamar
    dimana kami untuk pertama kalinya bersetubuh. Sesampainya
    di  kamar  itu,  kubaringkan tubuh Nina di  tempat  tidur
    dengan   langsung  menindih,  menciumi  dan   meraba-raba
    tubuhnya.

    Setelah beberapa saat, tiba-tiba meronta-ronta
    dan  kemudian  bangkit duduk. Belum hilang rasa  terkejut
    dan  bingungku,  tiba-tiba lagi kemudian  Nina  mendorong
    tubuhku   hingga  terbaring  dan  dengan  cepat  membukai
    kancing bajuku dan kemudian melepaskan celana panjang dan
    celana  dalamku.  Setelah  itu ia  dengan  agresif  mulai
    menciumiku.  Mulai bibir, kuping, merembet ke  leher  dan
    dada.  Bahkan  Nina  cukup  lama  menciumi  dan  mengulum
    putingku. Geli-geli enak rasanya.
    Dari  dada, ciuman Nina merambat ke perut dan kemudian
    ke  pangkal  paha. Berbeda dari perkiraan dan  harapanku,
    dari   pangkal   paha,   ciuman  Nina   tidak   menyentuh
    kemaluanku.  Padahal  aku ingin  sekali  agar  kemaluanku
    dicium  atau  setidak-tidaknya diraba oleh  Nina.

    Ketika
    ciuman  Nina  mulai  turun, aku sebenarnya  secara  tidak
    sadar  sudah  menarik kepala Nina agar  berada  tepat  di
    tengah  selangkanganku.  Tetapi,  tampaknya  Nina   tidak
    memenuhi  keinginanku  itu.

    Bibir dan  lidah  Nina  terus
    merembet  ke  bawah, ke bagian dalam  dari  paha  kananku
    sampai  ke  dengkul,  termasuk ke  bagian  belakang  dari
    dengkul. Di bagian belakang dengkul ini, kurasakan  lidah
    Nina  menyapu-nyapu. Nikmat dan menggoda rasanya,  karena
    sebelumnya   aku   belum pernah merasakan  hal  itu.   aku
    hanya dapat mendesah dan menahan napas saja. Dari dengkul
    kanan, Nina pindah ke dengkul kiri, dengan melakukan  hal
    yang sama. Secara perlahan kemudian merambat ke atas,  ke
    bagian dalam paha kiriku, kemudian ke pangkal paha.  "Nin
    .... Ayo dong" pintaku. Nina rupanya memang sengaja ingin
    menggodaku. Agak berlama-lama ia menciumi pangkal pahaku,
    dan bahkan kemudian turun lagi ke bawah. "Nin .... Please
    ...."  pintaku  lagi.  Nina tidak  juga  segera  memenuhi

    permintaanku,  tetapi ia kemudian mulai  menciumi  bagian
    bawah  kantung kemaluanku. Lumayanlah .... Batinku  dalam
    hati.  Dan akhirnya, Nina mulai menciumi kemaluanku  dari
    samping, baik kiri maupun kanan, tetapi kepala kemaluanku
    belum  dijamahnya. Akhirnya, dengan sentakan  yang  cukup
    keras,  kutarik  kepala  Nina hingga  mulutnya  menyentuh
    kepala  kemaluanku.  Mulailah ia mencium,  menghisap  dan
    menyedot kemaluanku ..... hingga pada akhirnya kemaluanku
    memuncratkan isinya. Aku agak terkejut sekaligus  terharu
    ketika  Nina,  menampun  air  maniku  dimulutnya,  bahkan
    menelannya.  Jangankan  menelan, untuk  sekedar  menciumi

    kemaluanku  saja,  isteriku  sangat  jarang.  Hitungannya
    masih bisa dihitung dengan jumlah jari dalam satu tangan.
    Jijik  dan tidak pantas kata isteriku. Terus terang,  aku
    merasa  tersanjung waktu Nina menelan  air  maniku.  Nina
    ..... Nina .....
    "Tadi  kamu ngeledek aku ya Nin .... " kataku.  "Orang
    sudah  pengen banget .. eh malah turun ke dengkul lagi  "
    lanjutku  lagi.  Nina tertawa kecil dan kemudian  berkata
    "Tapi enak kan ..."  dengan yakin. "Uueenakk buaanget ...
    "   jawabku.  "Kamu  tidak  jijik  Nin  menelan  maniku?"
    lanjutku  bertanya. "Biasanya sih iya" kata  Nina,  "tapi
    tadi  aku  tidak sadar dan tidak merasa jijik, malah  aku
    juga  ikut  menikmatinya sepenuh hati" kata  Nina.  Dalam
    hati aku membenarkan perkataan Nina. Ketika dimesrai Nina
    tadi,  aku merasakan pelayanan dan penyerahan yang  total
    dari  Nina, bahkan tidak memperdulikan badanku yang belum
    mandi,  karena  tadi aku langsung dari kantor  ke  tempat
    ini. Suatu ketotalan yang bahkan rasanya belum pernah aku
    dapatkan dalam berhubungan dengan isteriku. "Biasanya aku
    menolak  jika  Mas  Joko  mau  mengeluarkan  maninya   di
    mulutku,  apalagi  menelannya"  sambung  Nina  di  tengah
    lamunanku.  "Ma kasih ya Nin" kataku sambil mengelus-elus
    tubuhnya.  "Aku  juga mas" kata Nina.  "Anggap  saja  itu
    sebagai imbalan dari pengalaman baru yang Mas berikan  di
    Bandung  waktu  itu"  kata Nina.

    "Ya mana  Nin?"  tanyaku
    sambil sekali-kali memberikan kecupan ringan di pipi  dan
    kupingnya.  "Itu  lho, yang punyaku Mas ciumin.  Itu  kan
    juga sebelumnya aku tidak pernah mengalaminya" jawab Nina
    sambil membalas elusanku, dengan mengelus-elus dadaku.

    Kecupan-kecupan ringan terus kulakukan  di  wajah  dan
    kuping  Nina. Bahkan aku mulai merembet turun  ke  leher,
    dada,  perut  ...  dan  akhirnya kubalas  apa  yang  Nina
    lakukan  padaku.  Ketika aku menciumi kemaluannya,   Nina
    membalikkan  arah  tubuhnya, sehingga  kami  bisa  saling
    meciumi  kemaluan  satu sama lainnya. Kadang-kadang  Nina
    berhenti mencium, ia hanya menggerak-gerakkan pinggulnya.
    Aku  mengira  ia  sedang  menikmati rangsangan-rangsangan
    yang  kuberikan. Pada posisi itu, entah berapa kali  Nina

    mengalami  orgasme  aku tidak tahu  persis.  Tetapi,  aku
    merasa   setidaknya  tubuh  Nina  sempat  meregang-regang
    secara ritmis sebanyak dua kali. Karena kemaluanku  sudah
    tegang,   akhirnya  kubalikkan  tubuhku  dan   kumasukkan
    kemaluanku  ke kemaluan Nina. Kugerakkan pinggulku  turun
    naik.  Sampai  akhirnya aku eyakulasi di  dalam  kemaluan
    Nina.
    Di  tengah  perbincangan kami setelah  permainan  yang
    melelahkan  tersebut,  Joko  datang  dan  langsung  masuk
    kamar.   Ia   menanyakan  bagaimana  keadaan  kami.   Aku
    mengatakan  bahwa  kami sudah berhasil  melakukan  intim.
    Kemudian  Joko  meminta kami untuk bermain lagi.  Tetapi,
    entah  kenapa,  saat  itu  kemaluanku  tidak  lagi  dapat
    berdiri  tegak. Setelah dicoba beberapa lam, tetap  tidak
    dapat tegak walaupun terkadang dapat agak membesar. Boleh
    jadi,  hal  itu  disebabkan karena  aku  sudah  dua  kali
    mencapai  kepuasan  malam itu.  Boleh  jadi  juga  karena

    keberadaan  Joko  mengurangi nafsu  aku   dan  Nina.  Joko
    terlihat  sedikit kecewa ketika kukenakan  pakaianku  dan
    pamit pulang.

    Keesokan  siangnya Nina meneleponku di kantor.  Dengan
    terisak  ia  bercerita  bahwa  ia  dan  Joko  baru   saja
    bertengkar hebat. Tanpa kami sadari, rupanya Joko merekam
    dengan kamera video apa yang kami lakukan di kamar ketika
    ia  pergi.  Melalui hasil rekaman itulah Joko  mengetahui
    apa  yang  kami lakukan di kamar itu. Joko sangat  marah,
    karena   ketika  ia  tidak  ada  kami  dapat  berhubungan
    sedemikian panas dan binal. Nina menceritakan bahwa  Joko
    juga  mengungkit-ungkit beberapa hal  yang  tidak  pernah
    Nina  lakukan padanya.

    Khususnya karena Nina mau menerima
    air  maniku  di  mulutnya bahkan menelannya,  serta  Nina
    bersedia  menciumi  kemaluanku setelah kemaluan  tersebut
    masuk  ke dalam kemaluan Nina. "Sialan ..." kataku  dalam
    hati. "Suka ngintip dan merekam, eh koq tidak sadar kalau
    direkam".
    Kuberikan beberapa saran praktis untuk Nina saat  itu,
    sambil  membuat  janji  untuk bertemu  pada  siang  hari.

    Setelah  kejadian  itu, Joko tidak  pernah  menghubungiku
    atau  meminta  tolong lagi padaku. Tetapi,  kadang-kadang
    aku  masih  berhubungan intim dengan Nina. Entah  itu  di
    hotel,  di  villa keluarga kami, bahkan  pernah  juga  di
    rumah   Joko  ketika  ia  bertugas  ke  anjungan  minyak.
    Diilhami  dengan apa yang dilakukan Joko, dalam  berbagai
    kesempatan  aku  juga mencoba merekam permainanku  dengan
    Nina.


    Kumpulan Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Seks Dewasa Indonesia, Kumpulan Cerita Mesum Sedarah, Cerita Seks Perumahan, Kumpulan Cerita Seks Indonesia, Cerita Seks Dewasa Melayu, Kumpulan Cerita Panas Dewasa, Cerita Dewasa Terbaru, Koleksi Cerita Panas, Cerita Birahi Sedarah, Cerita Dewasa Panas, Cerita Hot Dewasa, Cerpen Dewasa Panas, Cerita Panas Dewasa Malaysia, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Sedarah Terbaru, Cerita Birahi Pembantu, Kisah Ngentot Sama Pembantu, Cerita Seks Bergambar, Cerita Ngentot Bergambar, Cerita Dewasa Terbaru 2016, Cerita Dewasa Pembantu Muda, Kumpulan Cerita Seks Dewasa, Kumpulan Cerita Seks Terbaru, Rumah Seks Indonesia, Cerita Dewasa 18, Cerita Dewasa Sedarah Dengan Mama, Kumpulan Cerita Seks Bergambar, Cerita Selingkuh Ngentot, Kumpulan Cerita Dewasa Terbaru 2016, Cerita Sek Melayu Terkini, Cerita Lucah Melayu Terkini, Koleksi Cerita Lucah Cikgu, Koleksi Cerita Seks Melayu, Koleksi Cerita Lucah Bahasa Melayu, Cerita Seks Cikgu Melayu, Cerita Dewasa Sek Ngentot Memek, Cerita Seks Abg, Cerita Seks Indonesia Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Abg, Cerita Sex Bergambar Indonesia, Cerita Hot Janda Muda, Cerita Sex Dewasa Bergambar, Kumpulan Cerita Dewasa Bergambar, Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Sex Terbaru 2016, Kisah Seks Cerita Dewasa, Kumpulan Cerita Sedarah, Cerita Seks 2016, Gambar Sex Terbaru 2016, Cerita Dewasa Melayu Terbaru, Cerita Selingkuh Terbaru, Rumah Seks Indonesia Setengah Baya, Kumpulan Cerita Seks, Kumpulan Cerita Pembantu, Cerita Sex Cewek Abg, Cerita Sex Terkini, Rumah Seks Indonesia 2016, Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Ngentot Pembantu, Cerita Seks Sedarah Terbaru,Cerita sex, Cerita seks, Cerita Dewasa


    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © Film18plus | Cerita Dewasa | Video Bokep | Cerita Sex Terbaru | Ngentot - -